December 26, 2020

Cukup Diam dan Menunggu

 


Terkadang, kamu hanya cukup diam dan menunggu…

Di belakang kemudi, kamu mulai bosan menanti berputarnya roda kendaraan di depanmu. Jalanan pagi, seharusnya segar dan indah, nyatanya lebih sering menyajikan sisi terburuknya. Perlintasan rel kereta di titik itu, mungkin selalu jadi biang keladinya. Macet, berhenti total, lebih dramatis, jalanan mungkin telah mirip lajur parkir saja.

Lokomotif kereta yang ditunggu batang hidungnya, lama sekali menampakkan diri. Momen ketika menunggu seperti ini, selalu menimbulkan cemas. Ada saat di mana kamu pasti menebak, dari arah manakah kereta akan lewat. “Pasti dari kiri, dari Stasiun Lama itu…” Dan, beberapa detik berlalu, nyatanya bukan dari sana kedatangannya. “Ah, arah sebaliknya. Sial!”

Sementara, hanya setengah probabilitasnya secara matematis, tapi yang namanya menebak, ada saja peluang untuk salah. Padahal, bisa pula kamu tak perlu berandai dari arah mana, kereta itu toh pasti juga akan lewat. Kamu cukup hanya menanti. Diam saja. Tak perlu gusar lebih jauh ingin tahu.

Terkadang, kamu hanya cukup diam dan menunggu untuk seseorang yang pasti datang. Sebab, dua orang yang saling mencari, seringkali justru terlampau sulit bertemu di satu sisi.

(IPM)

Idham PM | Sketsastra 2020

#Ilustrasi diunduh dari sini.

1 comments:

Anonymous said...

Yey, tulisan baru. Keep writing!

Followers