Tertawa Pada Diri Sendiri

April 26, 2014





“Mengapa takut berbagi cerita?” tanyaku kepada salah seorang teman.

Jawabnya, “Aku tak cukup berani apabila dunia menertawai kisahku.”

“Adakah yang lucu dari ceritamu?” balik aku bertanya.

“Tak tahu, hanya saja kisah pelikku terkadang menjadi bahan lelucon bagi seseorang, yang aku kira sama sekali tak ada sisi terlucunya...”

Pernahkah kita menertawakan diri sendiri, jauh sebelum menjadikan orang lain sebagai bahan tertawaan. Belajarlah pada para sufi, mereka terlampau mahir melihat kelucuan dalam diri hingga menertawai. Lebih keras, lebih lantang.

Sebab, kita memang tak bisa melihat tengkuk kita sendiri, bukan?
Lantas, mengapa tertawa keras dan lantang ketika melihat tengkuk orang lain berbeda dengan milik kita?
Adakah yang paling suci ialah kita, bukan mereka?

Bandung, April 2014

Read More

Betapa Sederhana untuk Jatuh Cinta

April 25, 2014



Jatuh cinta itu sederhana, bukan?

Tak perlu sebuah drama untuk bisa bercerita bagaimana seseorang mengalami jatuh cinta. Cukup waktu yang tepat, dan bersama orang yang tepat.

Pernahkah kau mengalami, jatuh hati kepada seseorang yang bahkan kau jarang sekali bertemu dengannya? Dia, tengah mengindahkan diri jauh dari tempatmu. Sementara kau, hanya mampu melihat tingkahnya lewat lensa LED ini.

Namun, bisa-bisanya jantungmu itu terasa berdebar kala dia berbincang mengenai sebuah topik. Bibirmu itu tetiba ikut menyanyikan lagu yang dia suka. Bahkan, lebih jauh, anganmu itu mengharapkan dia menjadi pasanganmu kelak di kala dewasa.

Ini tak mengada, sebab aku mengalaminya. Satu kali, dua kali, tiga, empat, dan seterusnya. Akan tetapi aku jamin, sekian kali itu, pada orang yang sama: kau.

Sebenarnya, aku tengah berkabar kepadamu, tentang bagaimana sederhana perihal jatuh cinta. Kini, bolehkah aku bertanya, “Apakah kau telah memahaminya? Jatuh cinta itu sederhana, bukan?”

Dan jawabnya... kau hanya tersenyum.

Bandung, April 2014

Read More

Menikahi Anak Perempuanmu

April 24, 2014




Kemarin lusa aku tak sengaja menemukan laman pribadi seseorang. Tak sengaja, sebab tak ada niatan untuk mencari. Hanya saja, tautan alamatnya kian menarik untuk dikunjungi. Dan... aku menemukan lirik ini:

I’m gonna marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me ‘till the day that I die

Syahdu rasanya bisa bernyanyi seindah Brian Jr. tepat di hari pernikahan nanti. Bersenandung untuk permaisuriku, entah siapa gerangan dirinya, aku masih tidak tahu.

I’m gonna marry your princess
And make her my queen
She’ll be the most beautiful bride that I’ve ever seen

Namun, pasti akan tiba saat itu. Hari di mana aku berkunjung ke rumahnya, mendatangi ayahnya, serta meminta izin untuk menikahinya. Dan, ketika resepsi, dia tak pernah tahu jikalau aku akan menyanyikan lirik ini untuknya.

Can’t wait to smile
When she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter

Itulah sketsa suasana di hari pernikahanku nanti, sudihkah kau mendampingi?

Bandung, April 2014
Read More

The Perfect Muslimah

April 21, 2014



Tentang paras...

Di dunia ini, terdapat paras yang saat dipandang menyenangkan, lama dilihat tak merupa penat. Itulah paras yang senantiasa terbasuh oleh siraman wudlu, bercahaya oleh khusyuknya ibadah, serta keningnya diperindah oleh nikmatnya sujud.

Pemilik paras itu senantiasa menjaga auratnya, pergaulannya, terlagi perilakunya. Matanya berkilau oleh air mata taqwa, bibirnya basah dengan untaian petuah, serta rambutnya tertutup oleh juluran jilbabnya.

Apabila berbicara, pemilik paras itu laksana dakwah, pendengarannya tilawah, geraknya bak jihad fii sabilillah. Hatinya penuh dzikir, otaknya penuh pikir, segalanya lengkap dipercantik oleh terjaganya lahir.

Ini tentangmu, calon perempuanku...

Dikutip dari buku The Perfect Muslimah karya Ahmad Rifa’i Rif’an.

Read More

Nyanyian di Hari Pernikahan

April 09, 2014






Aku selalu suka memandangnya. Terlalu suka bahkan. Apalagi ketika dengan nada sumbang dia bergumam akan tembang Passenger. Dia menggerakkan jemari, memainkan pena sembari berdendang lagi...

     staring at the bottom of your glass
     hoping one day you'll make a dream last
     but dreams come slow and they go so fast

     you see her when you close your eyes
     maybe one day you'll understand why
     everything you touch surely dies

“Apa yang kamu lihat? Dasar, sudah, sudah... kerjakan tulisanmu itu, jangan terus memandangi aku,” ujarnya, saat aku termenung di depan tatapnya.

Read More

Seharusnya, Aku Mengambilnya

April 06, 2014






“In the end, we only regret the chances we didn’t take...”

Bukan kemarin. Bukan hari ini. Aku menunggu, beberapa yang tak pantas ditunggu. Kamu pun menanti, seseorang yang tak layak dinanti.

Jikalau kau pikir rasa itu tak masuk akal, mungkin dulu aku menyangkalnya, tetapi boleh saja kini aku mengiyakan. Aku berpikir tak ada lagi kecewa, selain tidak jujur mengatakannya waktu itu.

Pada akhirnya, aku, akan terdiam tanpa kamu. Hanya tertinggal aku, serta sesal terdahulu.
Kamu, kamu harus tahu...

Read More

Followers