Membaca Kamu

August 25, 2014





“Tinggi seorang lelaki adalah ditambah dengan janjinya,” tercetak di halaman sekian pada buku kepribadian. Aku kira, ada benarnya juga kalimat itu.

Salah satu janji terlama yang baru bisa kutepati adalah ini: menulismu. Bahkan, tak seperti barang biasanya, jemariku sukar sekali menari dengan sesuka di atas tuts alfabet. Entah mengapa. Entah ada yang salah, atau bagaimana.

Yang kutahu, kamu suka melempar kata-kata berlarik sastra. Hanya itu. Tak kulebihkan. Juga tak kukurangkan. Maaf jikalau aku apa adanya.

Dengan bahan sesedikit itu, lantas aku harus mengguratmu dalam berbait kalimat yang panjang, yang bersajak, serta yang akan membuatmu tersenyum kala membacanya. Oh, betapa itu susah.
Read More

Yang Terbaring di Bawah Batu Nisan

August 01, 2014




Barisan batu nisan tertata amat rapi mulai pintu gerbang hingga pagar pembatas pemakaman umum ini, sementara perasaan Santi begitu berlainan. Hati Santi berkecamuk tak karuan sejak turun dari kendaraan dan memilih bunga taburan untuk sebuah makam. Ya, sehari sebelum bulan puasa, Santi selalu menyempatkan diri untuk singgah ke tempat ini.

“Aku rindu mengucap salam dan bertemu dengannya,” desis Santi ketika ditanya oleh rekannya akan alasan mengapa bergegas ke sana.

Santi sendirian, tak berteman sesiapa. Sebab, susah rasanya mencari kawan yang mau diajak ke pemakaman. Mereka beralibi ngeri, seram, atau juga takut. Sebagian lagi malah diam, tak memberi jawaban.

“Sebenarnya pemakaman tidak seberapa menakutkan,” lanjut Santi, “Lihatlah, beberapa anak kecil gemar bermain di sana. Meloncat di antara nisan dan nisan. Dari makam tua, berpindah ke makam yang masih basah. Kalau ditengok lebih teliti, justru tak ada raut khawatir dari anak-anak itu.”
Read More

Followers