March 07, 2021

Belapati Pitaloka

 


Rintik turun cukup deras. Membasahi malam Minggu dengan kalut dan tirai gelap. Terperangkap saja dia dan kamu di sofa tengah apartment. Tempat mungil barumu yang harus kamu jelaskan berapa kali ke orang tuamu karena lebih merekomendasi bangunan rumah daripada sepetak lahan di tinggi gedung bertingkat untuk kamu pilih.

“Lebih simple, akses mudah ke mana-mana,” belamu.

Tentu, tidak ada yang lebih bosan daripada berdiam menghamburkan waktu di awal malam. Dia masih mencari series atau film favoritnya di Netflix. Kamu, bergulat dengan kolom berita di CNBC atau Kontan, melihat apa yang akan bergerak bullish, bearish, atau sideways dengan sok tahu.

Karena gamang, sikap ke-tidak-bisa-diam-nya beranjak ke rak bukumu. Deretan buku novel dan sastra yang mengisi barang separuh masa perkuliahan. Tentu, tidak sejalan dengan bidang yang kamu tekuni kini, tapi siapa peduli?

“Bacaan itu wajib, apapun bentuknya. Fiksi sekalipun, tak mengapa,” jawabmu, saat rekan berkunjung dan kagum dengan koleksi unik buku-buku itu.

Bilangan Fu yang dia pilih. Merapatkan diri ke sofa lagi sambil sesekali melihat ke arahmu. Tak beranjak kamu dari tadi, masih sotoy menganalisa candlestick dengan pelbagai variasi. Katanya, buku yang apik akan menenggelamkan pembacanya. Sepertinya, kamu juga akan hanyut dalam hitungan menit lewat tulisan Ayu Utami itu.

“Kamu sudah baca ini? Sampai habis?”

“Harusnya iya, tapi lupa detil isinya. Dulu sekali. Ada perang-perang ceritanya,” seadanya saja responmu.

Entah perang apa yang kamu ingat. Kadang, refleks saja kamu menjawab kalau tetiba disodorkan pertanyaan dadakan. Nantinya, kamu pasti merevisi jikalau alpha, “Ah, lain buku ya, okay revisi, sorry.”

“Pitaloka,” sergahmu, “Sedih ya jadi Pitaloka, mengharap kisah bahagia, tapi diterpa nestapa.”

“Siapa dia?” tanyamu singkat.

Benar saja, rasanya kamu salah buku. Dikisahkan, dalam beberapa laman buku itu, Hayam Wuruk, seorang pimpinan Kerajaan Majapahit jatuh hati dengan putri Padjajaran, Diah Pitaloka. Pinangan pun dikirimkan. Tidak bertele seperti saat ini, lamaran diterima, serta pernikahan siap dilangsungkan.

Di lain sisi, Gajah Mada, Patih Kerajaan Majapahit, dengan sumpah terkenalnya, Sumpah Palapa, masih berambisi besar untuk menyatukan Nusantara di bawah naungan Majapahit. Momen ini, salah satu yang ditunggu. Dengan pernikahan Putri Diah Pitaloka dan Raja Hayam Wuruk, tentu bisa jadi dimanfaatkan sebagai momen penaklukan Kerajaan Padjajaran oleh Kerajaan Majapahit.

Sedikit tak biasa. Pernikahan justru diisyaratkan diadakan di tanah Majapahit, bukan di tempat pengantin putri. Rombongan Padjajaran pun berangkat. Namun, mengetahui adanya maksud lain dari Patih Gajah Mada, mereka menolak. Perang Bubat pecah. Oleh karena kalah jumlah dan persenjataan, rombongan Padjajaran pun habis. Putri Dyah Pitaloka, yang masih bernyawa, memilih untuk belapati, tindakan bunuh diri untuk membela kehormatan kelompoknya.

Raja Hayam Wuruk tentu berduka. Namun, peristiwa itu justru tidak mendamaikan antar kedua kerajaan. Hubungan baik pun hanya harapan. Bahkan hingga kini, stereotip tidak diperbolehkannya memadu kisah romansa, terlebih pernikahan, antara turunan tanah Majapahit dan Padjajaran masih melekat kuat.

Ceritamu berhenti sampai di sana. Kisah yang kecut untuk dinikmati di kala penghujan. Dongeng yang membuat susah tidur malam. Serta, setelah bercermin, kalian mulai bertanya, apakah iya stereotip itu masih ada?

“Aku Jumat depan balik ke Bandung. Naik Turangga.”

“Siap, aku antar sampai Gubeng ya.”

(IPM)

 

Idham PM | Sketsastra 2021

#Ilustrasi diunduh dari sini

#Cerita terinspirasi dari Bilangan Fu karya Ayu Utami

 


1 comments:

Anonymous said...

Seperti biasa, dalem.

Followers