December 25, 2020

Perasaan, ataukah hanya Penasaran?

 


Menyukai seseorang, apakah benar selalu perkara perasaan?

Perihal menyukai seseorang barangkali cukup rumit untuk dibahas kedalamannya. Namun, apabila ditelaah sebentar, akan terdapat dua kata yang saling melempar gamang.

“Kamu menyukai dia karena perasaan, atau hanya sekadar penasaran?”

Sebenarnya cukup obvious untuk membedakan keduanya. Cintamu itu, yang katamu tadi memang berdasarkan perasaan, pastilah tidak akan timbul tenggelam. Rasa yang akan semakin tebal seiring bertambahnya waktu. Nyaman yang lahir ketika dia ada di dekatmu. Rindu yang seyogyanya hilang saat dia menunjukkan perhatiannya utuh. Serta, yang paling cheesy barangkali, segalanya mengalir dengan sederhana.

“Itulah cinta karena tulus perasaan. Namun, sebaliknya, kalau hanya bersebab penasaran?”

Tentu kadarnya akan sementara. As long as dia masih mencari tahu tentangmu, hampir pasti hangat selalu terasa. Ucapan sapa pagi, denting voice note memberi semangat, hingga kata “Selamat istirahat” sebagai penanda malam siap digulung akan rutin menghiasi. Akan tetapi, sesaat ketika rasa penasaran akanmu telah terjawab seluruhnya, misalnya dia telah berhasil mendapatkanmu, maka pelan saja dia mulai memberi jarak dan menjauh. Ironis.

Hmmm, perlu semestinya kamu coba berkontemplasi, bertanya ke dalam dan merenung: Apakah rasa yang dimiliki oleh dia untukmu memang murni perasaan, ataukah hanya topeng penasaran? Lebih jauh, bila kamu ingin menertawai diri sendiri, tanyalah balik ke dirimu: Tidakkah aku juga seperti itu kepadanya?

Ya, kamu tahu, banyak kata di bahasa kita memang bermakna netral, seperti halnya “perasaan” atau pula “penasaran”. Konteks, terkadang yang mengubah arti kata itu lebih kontras.

Revisit pertanyaan di awal: Menyukai seseorang, apakah benar selalu perkara perasaan?

Tidak selalu. Beberapa memulainya dari sekadar penasaran, kemudian muncul perasaan dan selanjutnya menetap, menumbuhkan akar rasa hingga dalam.

Namun, dalam batinnya, siapa tahu dia bertanya penasaran, “Akankah aku mampu tuk selalu membuat dia bahagia?”

(IPM)

 

Idham PM | Sketsastra 2020

#Ilustrasi diunduh dari sini.

0 comments:

Followers