Namanya TK Cinta

July 26, 2014



Cerita cinta gue bukan seperti episode sekali tayang di FTV yang indah di awal dan manis di belakang. Lebih banyak, kisah asmara gue berakhir tragis. Kadang tentang jatuh cinta diam-diam, atau seringnya suka tapi bertepuk sebelah tangan. Ga tau kenapa, kayaknya semesta emang memerintahkan gue untuk bersabar.

Gue itu bisa dibilang tau banget soal cewek. Kalau gue inget-inget, sejak TK dulu gue udah seneng sama cewek. Sekolah gue namanya TK Cinta. Singkat cerita, mungkin karna gue juga yang udah lupa, nama cewek itu Fenny. Nama lengkapnya lupa, coba gue inget, pasti udah gue stalking buat minta nomor telponnya. Kisah cinta ini belum bisa dikatagorikan sebagai cinta monyet. Mungkin ini lebih cocok disebut cinta kunyuk, cintanya monyet yang masih muda banget.

Fenny ini bisa bikin gue semangat belajar saat TK. Gue sampai-sampai belajar gimana caranya nulis bagus, ngebaca alfabet A-B-C-D-E dengan suara kebapakan (yang lebih sering mirip suara banci ketimbang bapak-bapak), berhitung layaknya ahli sempoa, hingga menggambar gunung dan sawah di buku gambar A4, tetapi dengan nuansa beda. Jatuhnya sih malah makin aneh saja.
Read More

Kamu itu Mirip Abdul Manan

July 17, 2014




Ada yang menarik ketika saya berbincang dengan teman perempuan saya yang tengah KKN di luar Pulau Jawa. Tepatnya, di Pulau Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Barangkali, awal obrolan kami terkesan sekadar basa-basi, bertanya kabar, perihal bagaimana keadaan di sana, dan lain topik sebagai pelengkap.

Namun, pembicaraan datar itu berubah menarik ketika di tengah chatting via line, teman perempuan saya ini melempar topik tentang Anak Nelayan Tanjung Bajo. Sontak, saya menimpali dan bertanya, siapa mereka? Apa yang berbeda dengan anak nelayan lain di pesisir Indonesia?

Panjang saja, Pristy, nama teman perempuan saya ini menjawab, “Mereka itu anak-anak dari Suku Bajo. Di sini mereka migrasi dari Pulau Sulawesi. Orang tua mereka seorang nelayan. Namun, kondisinya teramat kasihan.”


Read More

Followers