Moving On

January 30, 2012



Tuhan selalu memberikan ingatan agar kita selalu mengenang. Namun, tak sebebas itu menggurat sebongkah harapan yang telah terukirkan. Terkadang apa yang teralami tak pasti kau inginkan kembali. Kupikir angan selalu terbang di mana pun ia berada. Sedang kesedihan selalu tertidur hampa dalam bawah tanah yang basah. Basah karena air mata ketika kau tertegun menyesali semua. Bagiku tak berarti lagi apa kau akan kembali ataukah semakin jauh pergi. Yang pasti, hidupku adalah sekarang, bukan kemarin ataukah masa yang belum jelas akan datang...


Moving On 

by Andien
 

mungkin pernah ku menangis
mungkin diriku pernah tersakiti
namun diriku kini kembali
coba nikmati indahnya dunia
tiada lagi bayangan dirimu
yang selalu mencoba menahanku

bersama mentari ku bernyanyi
mewarnai hari-hari
bersama pelangi ku menari
menyambut bebasnya hati ini
tiada lagi yang mampu menghalangi
aku takkan berhenti melangkah
’cause i’m moving on

kupercaya nanti kan ada saatnya
cinta kan datang padaku lagi

***
Read More

My Valentine

January 28, 2012



Wajah cinta tak selalu murung ataupun bersedih. Terkadang cinta lebih manusiawi. Mengganti raut sendu menjadi sketsa yang indah. Kala Cinta mulai mengerti arti cinta. Rasanya tak berarti lagi beribu lembaran Senja yang kering setelah lampau basah karena air mata. Cinta itu mempunyai daya melupakan juga mengingatkan. Saat Senja yang kauingat, tentu sunyi yang kauikat. Namun, ketika Pagi yang tertambat,  berantai hamparan harap selayaknya lepas menuju relung yang tak seorang pun hendak berlabuh menuju gelap...

My Valentine
by Martina McBride

If there were no words
No way to speak
I would still hear you

If there were no tears
No way to feel inside
I'd still feel for you

And even if the sun refuse to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart
Until the end of time
You're all I need
My love, my valentine

All of my life
I have been waiting for
All you give to me
You've opened my eyes
And showed me how to love unselfishly

I've dreamed of this a thousand times before
In my dreams I couldn't love you more
I will give you my heart
Until the end of time
You're all I need
My love, my valentine

And even if the sun refuse to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart
Until the end of time
Cuz all I need
Is you, my valentine

You're all I need
My love, my valentine

***

Read More

Andai Dia Tahu



Karenamu, aku mulai menghujat cinta. Menyalahkan rasa suci yang lahir bersama terciptanya sepasang insan. Namun, hidup adalah tentang pelangi rasa. Mencintai Cinta secara sunyi jauh lebih rupawan kala hati tak sanggup untuk mengungkapkan. Terlagi Cinta telah bersama Hujan yang lain. Bagiku, menerimamu bersamanya memang tak semudah memberimu seberkas cinta, tapi percayalah, tak ada seseorang yang mampu memberi tanpa menanti segala akan kembali, kecuali mentari. Aku bukan matahari, Cinta. Aku adalah Bunga, yang selalu bersemi kala rasa kasih lahir mewangi di bumi. Saat aku terjatuh, terlepas  dari dahan layu, seseorang mengambilku, bermaksud memberikan aku kepada seseorang, kamu. Namun, dia terdiam. Terus memegangi tangkai bungaku, berbisik dalam hati, mengucap semuanya dengan arti. Andai bunga ini menyaksikan pertalian kita yang merona, Aku dan Cinta, pasti kelopaknya seketika merah, mengharum sejuta pesona, serta mekar abadi dalam naungan kita. Namun, bunga itu menghitam, terbakar, hangus tak bersisa kala dia menjamahmu di depan jasadku yang mati rasa...


Andai Dia Tahu 
by  Kahitna

Bilakah dia tahu
Apa yang tlah terjadi
Semenjak hari itu
Hati ini miliknya

Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba


Bilakah dia mengerti
Apa yang tlah terjadi
Hasratku tak tertahan
Tuk dapatkan dirinya

Tuhan yakinkan dia
Tuk jatuh cinta
Hanya untukku
Andai dia tahu


***

Read More

Merindu Lagi (Pada Kekasih Orang)

January 25, 2012



Sebuah kisah tentu akan sempurna apabila dibalas dengan sejuta cinta. Tentu barangkali cerita itu akan merona, menerbangkan angan hingga ke nirwana. Harapan boleh ada dan tidak pernah salah. Hanya saja apabila Cinta telah termiliki seseorang lain, pasti hati akan merajuk, merenggut segala asa hingga tersungkur karena cinta. Sepahit apa rasanya jatuh cinta pada Cinta yang telah berdua, mungkin serasa lirik lagu ini :

Merindu Lagi (Pada Kekasih Orang)
by Yovie n Nuno

sejak saat pertama melihat senyumannya
jantung berdebar-debar inikah pertanda
namun ternyata salah harapanku pun musnah
sejak aku melihat kau selalu dengannya
 
Tuhan tolong aku ingin dirinya
rindu padanya, memikirkannya
namun mengapa saat jatuh cinta
sayang sayang dia ada yang punya
mungkin kuharus pergi untuk melupakannya
dalam hati berkata takkan sanggup pergi

tlah kucoba menghapus bayang-bayang indah
tetapi selalu aku merindu lagi

oh mengapa kutak bisa
kutak bisa, kutak bisa

tuhan tolong, tolong aku
jatuh cinta pada kekasih orang
ingin lupa kutak bisa
sayang sayang dia ada yang punya

***

Read More

Apalah Arti Menunggu



Aku tak pernah mengerti apa arti penantian. Dalam angan ini hanya tersimpan beribu keindahan yang akan menemani kala masa itu datang. Masa saat kita berdua menyekat cinta dalam rintihan asa. Namun, waktu tak pernah melagu tentang kapan tiba masa itu. Hingga jauh, semu cinta akan Cinta adalah nyata dan sejati. Saat aku memilih, kuputuskan mengubahmu, Cinta, menjadi bantalan kenangan saja. Hariku tak lagi karenamu, tapi untuk Matahari yang aku mengerti bahwa dia selalu mencintai...

Apalah Arti Menunggu
by Raisa Andriana

telah lama aku bertahan
demi cinta wujudkan sebuah harapan
namun ku rasa cukup ku menunggu
semua rasa tlah hilang

sekarang aku tersadar
cinta yang ku tunggu tak kunjung datang
apalah arti aku menunggu
bila kamu tak cinta lagi

dahulu kaulah segalanya
dahulu hanya dirimu yang ada di hatiku
namun sekarang aku mengerti
tak perlu kumenunggu sebuah cinta yang semu
***


Read More

Rintik Hujan yang Terlupakan

January 24, 2012



Kadangkala kita harus berhenti untuk mencintai...

UNGKAPAN perih dalam hati kembali mengguratkan malam-malamku akhir pekan ini. Terdengar sumbang meski seharusnya tergambar lantang. Penuh cerita sebenarnya tapi tak mudah keluar dalam kata, terganjal beberapa nada yang kian memberatkan segala langkah. Langkah menujumu atau juga menjauh darimu. Seharusnya aku berlaku ini dan itu untuk menjagamu dalam benakku. Bukan kamu atau aku yang salah, tak jua kita. Kami hanya pemeran dalam sandiwara romansa yang mungkin penulisnya berat tuk akhirkan cerita dalam satu nuansa.
Read More

Elegi Sebuah Simfoni


Binatang bersayap indah itu hanya terdiam. Kaku. Tak banyak bergerak. Seperti mati. Kusentuh perlahan dengan nada berirama. Berpindah lalu terbang manghilang. Membawa segala beban yang mungkin terajut sempurna di punggungnya. Kupu-kupuku mungkin berlain cerita. Tak sanggup melayang. Terberatkan oleh gravitasi yang selalu menarik ke bawah. Berlipat. Hingga akhirnya terbaring dan mati.
           
Sebait cerita pendek yang kian berkesan mewarnai hati yang sedang terpecah belah ini. Oleh asmara yang senang mempermainkan emosi. Yang membuat hati terasa mati suri. Tak tahu tentang apa yang dicari. Menjemukan. Namun, rindu apabila tak melakukan.
Read More

Pelangi di Ujung Jemari

 
Hidup memang tak selalu maju ke depan, sesekali menoleh ke belakang atau menempuh segenap kelokan...

UNTAIAN kata-kata puitis tak padu itu mengawali hidupku pagi ini. Dering alarm ponsel, bising menyadarkan mimpi tak sempurna tadi malam. Masih berat sebenarnya kepalaku, oleh masalah kantor, keluarga, juga kamu. “Ya, kamu,” sergahku. Penyegar sekaligus beban dalam hidupku kini. Mantan terindah sewaktu kuliah dulu hadir kembali sejak pertemuan tak sengaja dua minggu lalu, lewat jejaring sosial. Benar. Lewat Facebook.

“Rasanya cukup menyesal aku membuat akun itu,” gumamku.
 

 “Mengapa dengan aku?” jawabmu balik bertanya.

Secara tiba-tiba kau datang. Tiada yang mengundangmu sebenarnya. Tak jua aku. Kisah kita juga telah berakhir lama menurutku. Aku telah putuskan tali itu. Sudah silam hingga aku lupa tepatnya kapan. Tak terelakkan kau memang spesial bagiku, tapi dulu. Sebelum aku menikahi Shinta, gadis kota kembang yang mungkin dikirimkan Tuhan tuk menghapus sepiku. Sepi keluargaku lebih tepatnya.

“Apa bedanya?” lanjutmu.

“Beda. Dia tak benar-benar kupilih saat itu. Dia perempuan pilihan ibu. Tapi aku tak menolaknya ketika kami dipertemukan. Sebab tak ada pilihan lain. Aku tak punya calon. Sedang ibu mendesakku untuk segera menikah,” jelasku panjang.

“Pepatah Jawa memang rasanya kurang klik dengan kisahku ini. Ya. Mungkin harus diganti: ‘Wiwiting tresna jalaran ora ana sing liya’ bukan ‘jalaran saka kulina’.”

Tak seharusnya aku menceritakan itu semua. Ini keluargaku yang sah. Yang penuh harmoni nan rasa cinta. Tak pantas aku menurunkan citranya. Citra istriku khususnya.

“Tak apa, aku tak akan banyak berkomentar kok. Hanya berusaha menjadi pendengar setia. Aku juga tak ingin tahu banyak soal keluargamu. Keluarga kecil bersama wanita ibumu. Yang kau agung-agungkan itu. Namun, bukankah sepi, dingin, dan hampa yang kau rasa?” angkatmu.

“Aku tak tahu. Aku bingung menjelaskan ini semua. Hatiku gundah antara dua pilihan,” gerutuku.

“Ayolah Van. Ini mudah. Tak serumit kisah Romeo-Juliet atau juga romansa Napoleon-Josephina. Kau lelaki. Kau tinggal pilih saja,” katamu kemudian.

“Tak semudah itu. Aku juga tak seburuk itu kepada seorang wanita, apalagi istriku sendiri. Sangat biadab rasanya. Aku tak sanggup,” ujarku seraya menolak.

“Lalu?”

“Apa?”

Andai saja kau bukan suami sah Shinta Lusiana. Pasti kau sudah bahagia jadi pendampingku kini. Mengusir sepi, menghangatkan hati yang kadangkala beku, menemani tidurku, membicarakan soal masa depan, menentukan jumlah anak-anak kita, serta mana yang terdahulu, anak lelaki ataukah perempuan.

“Sudah, kubur saja semua imajinasimu itu...”

“Bukankah hidup berawal dari mimpi?” lanjutmu.

Ya. Mimpi indah. Mimpi di mana tak seorang pun akan terluka. Mimpi yang membuat semuanya tersenyum mesra. Tak ada tangis, air mata, juga deru derita.

Sudah. Bangun saja dari ini semua.

“Bukankah kau sudah cukup bahagia seperti ini?”

“Ya... Tapi aku ingin lebih. Ingin selalu hadir kapan pun saat kau membuka mata,” katamu seraya memohon.

“Dasar pelindur, pemimpi ulung. Mana mungkin kita bisa bersama seperti dulu. Bergandengan tangan ke mana saja, berbincang ketika ingin mencurahkan semua, menelepon saat salah satu gundah atau bertemu meski harus mencuri waktu kuliah.”

Kenangan indah itu sudah lapuk. Termakan rayap-rayap kehidupan baru. Tak juga bisa kembali, meski hati sebenarnya ingin beralih. Sebagaimana abu kertas yang tak mungkin lagi menjadi kertas. Tetap hitam dan selamanya takkan jadi putih. Terjaga keruh atau semakin bertambah keruh hubungan kita ini.
***
           
SIANG ini. Cukup cerah untuk musim penghujan di kota sejuk ini. Langit juga tersenyum menyapa. Kau berkabar ingin bersua denganku. Tak biasanya kau yang menghampiri. Kau datang ke kotaku dengan sejuta harap lagi kerinduan. Aku bisa rasakan itu meski kau tak mengurainya dalam kata-kata. Kau menyewa sebuah kamar hotel dan menungguku datang ke ruangan itu. Terdiam sendiri. Sunyi hati yang tak bisa seorang pun membohongi.

Sudah beberapa jam kami mengobrol. Banyak cerita baru yang kau lontarkan begitu saja. Tak canggung lagi seperti waktu itu, di mana sesekali kita diam dan hanya saling memandang. Cerita tentang keseharianmu dan berbagai komposisi tambahannya. Kadangkala menyenangkan, sementara yang lain mengharu biru.

“Benang kehidupan memang terkadang kusut,” tambahku.

Kau tersenyum.

“Seringkali harus susah dahulu sebelum kau temui bahagia.”

Senyum itu menyeruak lagi. Bukan senyum bahagia atau suka cita. Lebih tepatnya topeng tuk tutupi segala kebimbangan. Kalut hatimu juga bisa kurasa. Cukup tragis. Tapi kau tak sadar akan hal itu.

Segera kau membuang muka ke arah jendela. Mengarahkan perhatian ke arah keramaian publik yang tak pernah tidur di luar sana. Mengeluarkan sebatang rokok mentol dari balik sakumu. Menyalakan dengan pemantik milikku yang tak sengaja kuletakkan di dekatmu. Menghisap dalam. Lalu menghembuskan asap ke langit-langit ruangan hingga membentuk beberapa semu lingkaran. Aroma tembakau juga santer tercium. Kulihat jemarimu sangat piawai memutar-mutarkan putung yang masih menyala itu sembari memberi jeda sebelum kau hisap lagi. Bibir indahmu juga tak tampak hitam karena nikotin. Mungkin juga tertutupi lipstik merah menyala itu.

Kami terdiam. Kamar itu tak bersuara. Hanya asap yang bergema menyuarakan kebimbangan kita.

“Kau masih suka menulis?” tanyaku memecah sepi.

Kau mengangguk.

“Tapi, mana karya-karya terbarumu? Kau berhenti sampai di puisi itu,” tanyaku ingin tahu.

“Aku mengarang berdasar interpretasi realita hidup. Dan ceritaku masih tetap di tempat ini. Berhenti. Belum maju. Lembar baru juga belum terbuka. Aku tak punya inspirasi segar lagi.”

“Apa maksudmu? Puisi itu tentang kita?”

Kau menunduk lesu. Entah malu atau leher itu sudah tak sanggup lagi menopang beban masalah di kepala mungilmu.

Aku masih ingat bebarapa kalimatnya:
            sepi merangkai arti
            sendiri
            dalam sunyi
            harap berganti
            tuk lalui emosi
            secerca menghampiri
            binar simfoni
            berpasang cintai elegi
            berarti
            namun terurai mati
            hingga nanti
            terpatri

“Sudah. Cukup. Aku tak mau dengar lagi. Aku letih akan semua ini,” pintamu.

Tak lama. Air mata itu akhirnya menetes. Makin deras. Hingga wajah itu kini terbasahi. Kau memelukku seketika. Merebahkan kepalamu di dadaku yang lumayan luas bidangnya ini.

Suasana menjadi dingin. Diam. Hanya gemericik isak tangis yang mengurai segala kerumitan.

“Menangislah sejadi-jadinya!  Setelahnya kau akan merasa lega. Mungkin bersama air mata itu mengalir pula segala beban masalah kita.”

Kau tak mengiraukan. Terus menangis...

Luapan emosi itu terhenti. Air mukamu juga sudah berubah. Hanya sisa bekas tangis yang masih tertinggal di pipimu yang merona. Aku mengusapnya dengan tangan ini. Dengan perasaan layaknya sepasang merpati memadu kasih. Kau sangat cantik. Bahkan saat menangis, kau sangat cantik. Aku terkesan.

“Apa rasanya sekarang?” tanyaku.

“Aku merasa ringan. Pundakku tak kaku lagi. Seperti ada yang menopang dari belakang. Sayapku juga mungkin telah terlengkapi. Aku bisa terbang kini,” jawabmu.

“Itulah peran kita. Peranmu juga peranku dalam sandiwara ini...”

“Peran?”

“Ya. Kita bak pemain drama roman picisan yang sedang pentas. Penuh cerita, makna, dan penghayatan. Mimik dan skenario juga amat sempurna. Nyaris tanpa cacat.”

“Itu karena kita bermain dalam cerita dan peran yang sesungguhnya. Tak ada kemunafikan. Kita suci. Tak ada noda dalam diri kita.”

“Noda? Bukankah kita berperan di atas kebohongan terbesar? Bukankah kita selalu mengenakan topeng tuk tutupi semua? Apa kau lupa?” tanyaku.

“Aku tak lupa. Berlagak pelupa mungkin lebih baik. Berharap bisa lupa dan tak ingat lagi,” balasmu.
***

AKU kembali ke rumah seperti biasa. Tak ada yang berbeda. Shinta juga tampak tak curiga. Masih menebar senyum dan binar dari ujung matanya. Mungkin karena dia lugu atau aku yang terlampau lihai menutupi sebongkah peristiwa. Terkadang aku merasa bersalah pada Shinta, pada diriku, pada semua. Aku malu.

Kuperhatikan Shinta, seksama, menyeduh secangkir kopi panas untukku yang termenung menanti di ruang tengah. Memandang langit dari balik pintu kaca yang mulai mendung dan tak bersahabat. Semendung hati ini. Kulihat istriku sangat cantik, baik pula. Tak pantas aku menduakannya.

Kusesali dan terus seperti itu. Terkadang aku merasa tak benar-benar menjadi lelaki. Pecundang ulung. Pecundang bermuka dua.

Terlintas dalam benakku, aku harus pindah dari kota ini. Lari dari kenyataan untuk membangun kenyataan lain yang baru. Yang kami tahu apa maksud serta akhir ceritanya. Tekatku sudah bulat. Aku harus melakukan ini. Menghilang demi kebahagiaan yang sempat hilang tergadaikan.

Aku berbicara serius dengan Shinta.

“Kita harus pindah. Tak ada yang kita cari di kota ini lagi. Terlalu banyak kerikil tajam di sini. Kau tak keberatan kan dengan semua keputusanku?”

“Aku... Aku terserah kamu. Aku ikut saja... Jika itu yang terbaik...”
***

KAMI pindah ke kota kecil beratus kilometer menjauh dari tempat itu. Ke sebuah pemukiman yang cukup tenang serta asri. Dengan motivasi dan ekspektasi baru. Hidup baru. Cerita terdahulu. Bersamamu. Bersama keluarga kecil ini yang suatu hari pasti tumbuh besar. Kutitipkan message-Facebook terakhir dariku untuk Rena tanda perpisahan kita, esok dan selamanya. Kututup pula akun itu bersama cerita yang telah mematri beberapa romansa.

Aku bukan di sana. Tapi di sini. Menghapusmu, pelangi... 
(IPM)

Bandung, Juni 2011
Read More

Rembulan Tak Bertuan


MALAM pergantian tahun tak lagi menorehkan kesan di hati Arjuna. Kebanyakan orang pergi keluar menghamburkan uang untuk momen itu. Bersama keluarga, pacar, ataupun teman sepermainan. Hanya secerca harapan untuk lebih baik di tahun depan tapi setelah datang ternyata sama saja tak ada perubahan. Kadang Arjuna bingung, apakah tahun benar-benar berganti atau hanya berulang kembali.

Paskah libur dua hari, halaman kampus hijau bergaya Belanda itu masih tampak sepi ketika Arjuna datang dengan sepeda kumbangnya. Jalanan sekitar pun kian lengang tak banyak orang berlalu lalang. Para mahasiswa juga belum datang.

 “Benar saja, masih pukul 06.00,” kata Juna, panggilan akrabnya. ”
Read More

Senja Berlatar Jingga


MASIH teringat jelas dalam memori Reno tentang kisah-kisah tak sempurna di masa SMA dulu. Ya, banyak orang beranggapan bahwa masa SMA adalah masa-masa paling indah. Masa di mana seorang remaja bersiap menuju kedewasaan serta mulai mengenal arti cinta dan kehidupan. Semua melekat rapi di masa itu. Setiap hari adalah bahagia dan setiap saat takkan terlupa. Tapi mungkin opini tersebut kurang klik dengan kisah Reno. Hidup dalam kondisi yang kurang beruntung mengharuskannya melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh teman sebayanya. Setiap pagi buta Reno harus bergegas mengantar koran untuk warga kompleks yang berlangganan. Setelah itu barulah dia bersiap berangkat ke sekolah.
Read More

Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia

January 23, 2012


Agus Noor tak hentinya melahirkan karya sastra yang lugas dan luar biasa. Salah satu antologi cerpen terbarunya adalah Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia. Berisikan sembilan cerpen yang tak akan membuat pembacanya bosan. Saya seolah tersihir oleh rangkaian kata-kata magis dalam buku ini. Beberapa petikannya adalah:
~ AMBULANS yang membawa jenazahmu berkali-kali oleng karena sopirnya ngantuk. "Aku tak mau mati  kecelakaan lagi," katamu. "Sini, biar saya yang setir." Pak Sopir pun gantian istirahat di peti mati. Kulihat ambulans itu pelan menuju rumahmu. (20 Keping Puzzle Cerita halaman 71)
~ Ia sering mendengar bagaimana permen itu dibuat. Orang-orang miskin yang hidup di kampung-kampung kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan cara menampung kesedihan mereka.... (Permen halaman 47)
~ NASIB buruk kadang memang kurang ajar. Suatu hari, orang miskin itu berubah jadi anjing. Itulah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Anak-istrinya yang kelaparan segera menyembelihnya. (Perihal Orang Miskin yang Bahagia halaman 166)

Sambungan kisah yang lain dapat dinikmati sendiri dalam bukunya. Berkesan...

***
Read More

Apa Potensi Dirimu?

Rasanya beruntung, saya mendapat kesempatan membaca karya Akbar Zainudin yang berjudul Man Jadda Wajada - The Art of Excellent Life.



Dalam buku ini terbagi menjadi banyak subbab yang inspiratif. Namun, kali ini saya akan membahas subbab Membuka Potensi Diri.

Ya. Setiap manusia diciptakan dengan membawa satu potensi tertentu di mana potensi itu letaknya tersembunyi yang tidak akan memberikan nilai lebih jikalau tidak disertai upaya-upaya dan kerja keras guna menghasilkan suatu karya nyata. Yang membedakan satu orang dengan orang yang lain mengenai potensi yang dimiliki adalah keinginan untuk mewujudkan potensi tersebut. Sementara, potensi itu biasanya berhubungan dengan sesuatu yang kita lakukan dengan senang hati serta menghasilkan sesuatu yang baik.

"Dan emas bagaikan debu jika tetap terpendam si tempatnya, dan kayu jika tetap di tempatnya termasuk kayu bakar yang tidak berarti."
"Kepuasan diri adalah musuh dari inovasi."
"Sesungguhnya saya melihat air yang berhenti menjadi keruh. Jika air itu mengalir, dia akan menjadi bersih."

Dari ketiga petikan di atas, potensi bukanlah hal yang statis. Diperlukan sebuah kerja keras untuk memperolehnya serta proses memperbarui secara terus-menerus guna mendapatkan suatu karya nyata yang terus berkembang. (Man Jadda Wajada hal 109)

Ayo gali potensimu, lalu kembangkan !!!

***
Read More

Sedih Tak Berujung

January 22, 2012


Ketika Cinta memilih bersanding dengan cinta yang lain adalah tidak penah salah. Sebab tak ada yang salah akan Cinta. Meski dalam hati mengutuk, mengharap itu tak benar, serta mencoba tak menerima apa kata Cinta. Namun, ingatlah, Cinta tak pernah mengambil apa-apa darimu, kecuali Cinta itu sendiri. Dalam sedih yang tiada tepi, Cinta memberimu secerca senyum perpisahan. Senyum yang kaku dengan isyarat makna takkan kembali. Karena Cinta akan meninggalkanmu sendiri tanpa pernah menemani lagi...

Sedih Tak Berujung
by Glenn Fredly

saat menjelang hari-hari bahagiamu
aku memilih tuk diam dalam sepiku
saat mereka tertawa di atas pedihku
engkau cintaku yang telah pergi tinggalkanku

aku tak peduli, sungguh tak peduli
inilah jalan hidupku


kini aku kau genggam hatiku
simpan di dalam lubuk hatimu
tak tersisa untuk diriku
habis semua rasa di dada

selamat tinggal kisah tak berujung
kini ku kan berhenti berharap
perpisahan kali ini untukku
akan menjadi kisah sedih yang tak berujung


***
Read More

Perempuan Penadah Embun

January 21, 2012


FRAGMEN pagi mengembang, berpasang sejuta rona akan mimpi terang, mimpi tentang sebuah realita hidup yang mungkin semakin kelam tertelan jingga gelombang. Jingga yang dalam anganku adalah sebuah ketidakpastian akan warna, apakah berani ataukah meragu selamanya. Sering kuanalogikan jingga dengan para makhluk yang berjalan dalam keheningan relung pagi, semakin kutelisik, semakin pula kumenjauh dari logika semula, tanpa tahu kapan akan bersua.
***

DI tempatku dulu selalu ada berbagai kisah anomali, ketidakbiasaan. Tentang para wanita yang berbondong lari tunggang langgang berebut sejumput embun. Mereka datang bersama, layaknya arak-arakan sebuah perayaan, namun seketika maksud hati mengikuti, tiba-tiba mereka menguap, seperti asap. Lenyap tak bersisa ditelan mentari.
Read More

Lembayung Gulita

January 13, 2012


PELANGI itu sangat memesona, berantai serampai warna, mengolah sketsa indah di atas langit sana. Kau tak menyadari, entah karena tak suka atau menganggap fenomena itu sebagai hal yang biasa.

“Lihatlah! Ini indah, bukan?” teriakku padamu, hanya saja tak kulisankan. Aku bergumam.
Read More

Followers