December 16, 2019

Lewat Tengah Malam




Ada yang seharusnya masih bermata malam ini...

Jam digital di lenganmu menunjukkan dua belas lebih. Lewat tengah malam. Kamu pun akan bergegas, berkemas, dan segera membenamkan diri dalam naungan.

Ya, malam ini seperti yang sebelumnya. Selayaknya kemarin, tiga hari lalu, atau juga minggu lalu. Sama saja. Hampir pasti, selalu kamu yang pertama pamit mengakhiri segala perbincangan.

Entahlah, semenjak artikel itu kamu cerna, ditambah buku Thrive buah karya Arianna Huffington yang kamu baca habis saat menunggu boarding kuda besi di airport, kamu hampir tak tertarik lagi untuk bermata di malam buta. “Tidur cepat, bangun lebih cepat,” pungkasmu.

Namun, tidak dengan dia. Ya, cerita ini memang ditulis sebagai komparasi, antara kamu yang mudah sekali terlelap dan dia seorang lagi yang nocturnal. Entahlah, ada saja yang dia lakukan di malam yang sepi.

Mungkin benar, cara seseorang mengarungi malam ialah sangat bermacam. Ada sebagian yang hanya memejam, membaringkan tubuh di lekukan sprei, serta dengan mudahnya mulai tak sadarkan diri. Sebagian yang lain, barangkali justru segar bernyawa, menunaikan pekerjaan sebagai kompensasi siang saat mereka terlelap. Sisanya yang kecil, adalah porsi dari dia.

Ingin sekali kamu menyelinap masuk ke lorong tempat dia menghabiskan malam. Diam-diam saja kamu mengamati, mengerti, untuk kemudian memahami. Segala geriknya kamu catat dalam laman notamu. Buku kecil merah yang kamu bawa ke mana-mana, yang secara tak sadar tulisan di dalamnya meruah bahan ceritamu selanjutnya.

Lain waktu, dia berkisah tentang bagaimana khidmatnya mengolah angka-angka. Dalam balutan pajamas biru atau hijau, dia mulai mengkalkulasi. Dia terka dan akhirkan konklusinya. Ya, sampai larut benar.

Di kesempatan lain, dia terjaga oleh alunan nada musisi favorit, penyanyi lama yang hampir pasti ‘anak sekarang’ takkan tahu siapa profil itu. Lucu memang, seorang menyukai lagu, hanya berdasarkan intonasi. Bukan lirik, atau pula kalimat yang disanjung sang penyanyi. Hmm, hanya dua alasan di atas yang kamu terka, sisanya masih tanda tanya.

Ada yang seharusnya masih bermata malam ini... Iya, dia. Namun, tak seperti biasa, dia telah terlelap. Dalam lirih, kamu bertanya, “Dia mengapa?”
(IPM)

Anyer, Desember 2019

#Ilustrasi diunduh dari sini

1 comments:

Anonymous said...

Berkunjung lagi setelah sekian lamanya

Followers