October 11, 2019

Merayakan Perpisahan



Jika kamu tak kuasa membaca, coba resapi liriknya saja...

Ibaratnya, ada hal-hal di dunia ini yang hadirnya tak sanggup dipaksakan. Kamu tentu tahu, bagaimana mustahilnya mencegah malam untuk tidak berganti pagi. Soal bagaimana rasanya merayu gerimis agar tidak secepat itu reda. Juga tentang dia, yang kamu yakinkan untuk menetap, tetapi pilihannya hanya singgah.

Tentu kamu paham betul, bahwasanya ‘menetap’ dan ‘singgah’, sejatinya ialah beda arti. Satunya berjangka lama, yang lain bermakna cuma sementara.

Memang benar ternyata, ada kalanya tak perlu berpanjang akal. Berencana terbaik akan seperti itu dan ini, selayaknya, “Nanti kamu begitu, nanti aku begini,” bisa jadi merupa obrolan sia-sia. Kekal sudah semuanya kini di dalam pikiranmu. Serta, takkan pula segala kisah itu mampu kau lupakan.

Rencana yang tak pernah terealisasi adalah hutang, menurutmu. Dan, kamu pasti akan sepakat, bilamana semuanya harus tuntas sebelum bersiap berangkat ke lain tujuan. Asal kamu tahu, hutang itu berbunga. Semakin lama tak kamu tunaikan, perjalananmu barangkali juga akan semakin berat.

Berat itu, yang akan membuatmu berpikir akan awal-awal pertemuan. Selayaknya kotak kenangan, otak manusia menjelma sama. Setiap momen senantiasa berputar begitu saja. Dia yang setujuan denganmu, yang sangat mengerti bahwa ‘apapun akan sampai apabila dimulai’. Dia yang bersemangat dan jarang mengeluh. Serta paling penting, dia yang mengubahmu, dari yang dulu pembangkang, menjadi seseorang yang lebih tenang.

Apa bayaran untuk suatu perubahan? 

Adaptasi, pungkasmu, kemudian mewujud rutin, dan datar seperti biasa.

Sungguh tidak ada yang berpikir bila rutinitas nyatanya mematikan. Pagi ini, siang itu. Sore itu, malam ini. Berotasi dan kembali. Lambat saja, tapi pasti. Diam-diam, bom waktu senyap yang kamu tanam, akhirnya meledak hebat. Meruakkan sepi, melahirkan kata pergi.
***

Kamu sedang menyeduh teh pemberiannya. Sembari tersenyum getir, cangkir itu kamu angkat. 
Bersulang! Mari merayakan perpisahan!
(IPM)

Anyer, Oktober 2019
#Ilustrasi diunduh dari sini

1 comments:

Anonymous said...

Sedih bacanya Kak...

Followers