Menanti untuk Dicintai

December 19, 2012



Maaf saja tiada cukup...

Aku pernah meninggalkanmu dulu, jauh tak terjangkau waktu. Kala itu kau sendirian, berteman dengan sunyi yang semakin kelam. Sunyi yang senyapnya sangat dingin, hingga satu per satu logikamu membeku tak karuan. Kau menangis tersedu sambil merangkai makna bunga-bunga perjumpaan. Namun, sungguh aku telah meminta maaf atas semua, tinggal kelapanganmu saja yang menentukan apakah kau sudih menerima.
 

Kita pernah berbagi spasi, bederma kasih, serta saling menerima keletihan atau juga elegi kesedihan. Tiap jangka kaki dahulu pernah hanya mengarah ke arahmu. Tangan ini, tak hentinya memagut jemari kala kita berjalan beriringan. Mata ini, tak lelahnya memandang kemilau gerai rambutmu yang menawan. Bibir ini, tak sanggup berkata selain rasa dan cinta. Itulah romansa, di waktu yang singkat mengindahkan, di kala yang lain sempurna menyedihkan.

Ingatkah kau kala aku berkunjung membawamu pergi makan? Kala itu masih kukenang langit yang murung serta rintik deras hujan. Hujan yang lebatnya menuntunku duduk berlama di depanmu. Menikmati seduhan teh serta makanan berkuah yang lain. Tak penting sesungguhnya apa rasa hidangan tadi, sebab bukan itu tujuan yang kita cari. Kita hanya ingin membagi luka dan duka. Setelahnya, barangkali kita akan padu menghapus air mata.

Aih, lagi dan lagi hanya soal drama picisan. Kisah yang mengundang sengguk air mata dan menggadai keriangan milik manusia. Biarlah, sesekali kuajak kalian memahami apa itu rasa serta apa itu cinta.

Rasa ialah apa yang dialami dan didalami oleh hati. Jauh tak terjangkau mata, sebab rasa tak pernah memperlihatkan wajahnya, cukup sentuhan, dan rona beberapa insan seketika berubah merah tak bermakna.

Oh, rasa sungguh bisa memainkan segala peran. Ketika kau ingin senang, rasa memberimu riang. Ketika kau ingin sedih, rasa menyelipkan satu episode elegi. Dan ketika kau inginkan aku, rasa sengaja tak memelukmu. Lantas, kau murung dibuatnya. Namun, itulah rasa, dia tak akan sekejam langit malam, tak pula sekeji gemerlap siang. Sebab suatu saat, rasa barang tentu akan menjatuhimu seberkas cinta dari seseorang yang pantas kau terima. Maka sabar dan tunggulah.

Sedang cinta adalah hanya tentang bagaimana kau menjaga perasaan orang yang kau sukai terlepas apakah dia sedang bersamamu merangkai kasih, atau sedang merajut cerita dengan seseorang lain yang pantas dia cintai. Aih, tapi beberapa larik kalimat tadi sungguh sangatlah sukar untuk direalisasi. Sebab, cinta ialah cinta, yang tak bisa diramal kapan datangnya serta tak sanggup ditahan apabila ia menginginkan hijrah.

Berbulan tak jumpa, berminggu tak bersua, serta berhari tak menyambung tawa ternyata mampu menumbuhkan kembali rasa. Entahlah, aku selalu mengagumimu yang menunggu kedatanganku pulang. Sungguh, rasa dan cintamu ialah setulus langit pagi. Kau, sesungguhnya telah benar-benar mengerti apa itu rasa serta apa itu cinta. Sedang aku, hanya menerka-nerka dan tak tahu makna dua kata itu sesungguhnya.

Kini, aku serahkan raga ini padamu. Kutitipkan angan-angan semu bersama yang lain ke dalam dirimu. Kau boleh membuangnya jikalau tak suka, atau juga kusilakan kau mengubahnya menjadi sketsa-sketsa lekukmu saja. Sungguh, tak akan kubatasi kau bercerita. Tak pula kubiarkan air mata sedihmu kembali jatuh menghiasi rona.

Lihatlah aku. Dengar pula kata-kataku yang sejenak akan bergema. Sekarang, tak akan aku meminta maaf lagi kepadamu. Tak akan pula kuminta kelapanganmu menyediakanku menerima. Kuganti kalimat-kalimat sesal itu dengan pertanyaan harap yang baru: Cinta, masihkah kau mencintaiku?
(IPM)

Bandung, Desember 2012
#Ilustrasi diunduh dari sini

Followers