Rembulan Tak Bertuan

January 24, 2012


MALAM pergantian tahun tak lagi menorehkan kesan di hati Arjuna. Kebanyakan orang pergi keluar menghamburkan uang untuk momen itu. Bersama keluarga, pacar, ataupun teman sepermainan. Hanya secerca harapan untuk lebih baik di tahun depan tapi setelah datang ternyata sama saja tak ada perubahan. Kadang Arjuna bingung, apakah tahun benar-benar berganti atau hanya berulang kembali.

Paskah libur dua hari, halaman kampus hijau bergaya Belanda itu masih tampak sepi ketika Arjuna datang dengan sepeda kumbangnya. Jalanan sekitar pun kian lengang tak banyak orang berlalu lalang. Para mahasiswa juga belum datang.

 “Benar saja, masih pukul 06.00,” kata Juna, panggilan akrabnya. ”
 

“Mana ada mahasiswa yang datang sepagi ini ?” lanjutnya.

Hanya Juna dan segelintir orang saja yang sudah beraktivitas di pagi itu. Bukan apa-apa, Juna adalah anak salah satu penjual makanan di kantin kampus ternama itu. Setiap subuh dia berlomba mendahului mentari agar sampai tepat waktu di pasar induk dekat balai kota bermaksud membeli segala kebutuhan untuk ibunya berjualan nanti. Setelah semua terpenuhi, barulah Juna melenggang menuju kampus.

Deru sapa penjual lain begitu ramah terdengar di telinga Juna. “Ternyata mereka jauh lebih pagi dari aku,” kata Juna menyeru. Langsung saja dia berjalan menuju lapaknya, membuka kunci pintu, serta menyalakan kompor untuk memasak segala hidangan. “Aku membuatnya dengan hati, pasti mereka akan suka dan membelinya lagi,” seru Juna berpikir positif.

Menit demi menit pun berlalu, sang surya juga telah tampak perkasa lagi menyinari bumi. “Sudah pukul 08.00. Saatnya berganti pakaian dan menyiapkan segala keperluan kuliahku,” kata Juna bergegas. Ibunya juga telah datang di lapak itu. Maklum, saat ada jam kuliah, ibunya lah yang menggantikan Juna menjaga warung itu. Namun, apabila Juna tidak kuliah, dia pasti langsung menuju warung untuk membantu ibu yang mulai tak cekatan lagi melayani pembeli. Jelas saja, warung Juna termasuk salah satu warung paling ramai di kantin itu. Ya, meski kampus ternama serta mayoritas mahasiswanya dari kalangan beruang, tapi kalau urusan perut mungkin mereka tak segan tuk berdesakan berebut hidangan dan ramahnya pelayanan di kios Juna. Mulai mahasiswa, dosen, dekan, atau rektor sekalipun mungkin pernah makan siang di sini. Semacam primadona lah tempat itu.
***

SUMBU kehidupan terus melaju seiring berputarnya roda sepeda Juna. Meski tiap hari harus kuliah sambil bekerja entah tahu kapan semuanya menjadi terang, Juna tak pernah hilang semangat. “Buat apa merintih di bawah langit kalau aku bisa berdiri tegak memikulnya,” kata Juna menyemangati diri. Hari ini jadwal kuliah Juna baru ada setelah pukul 14.00. Tapi dari pagi dia sudah terjaga bersama ibunya. Melayani pembeli yang datang dan pergi tak ubahnya ombak di tepi sebuah pantai.

“Ini Nona pesanannya,” kata Juna ketika mengantarkan makanan ke sebuah meja.

“Iya, terima kasih. Lho, kamu Juna kan?” balas nona manis itu.

“Iya, Non. Ada yang bisa saya bantu?” jawab Juna.

“Oh, nggak. Kenalkan aku Rara. Anak FISIP juga sama seperti kamu, tapi aku baru hari ini kuliah di sini Aku berasal dari Surabaya, Jun.” kata Rara menjelaskan.

“Oh begitu. Iya deh, Non. Salam kenal. Aku kembali dulu ya ke kiosku. Masih ada yang harus aku kerjakan. Sampai ketemu.”

“Iya. Sama-sama, Jun. Salam kenal juga,” kata Rara menutup pembicaraan.

“Sungguh manis si nona ini, adakah dia sampai kumiliki?” dalam hati Juna ketika berlalu.
***

HARI demi hari berlalu begitu cepat. Frekuensi pertemuan Juna dan Rara pun semakin sering saja. Mulai dari kerja kelompok tuk sebuah tugas konservasi atau hanya sekedar makan siang berdua sambil saling mengagumi. Tak ada yang salah tentang pepatah Jawa bahwa cinta ada karena terbiasa bersama. Simfoni itu telah mengubah hitam merah kehidupan Juna yang sudah lama tak merasakan cinta akan seorang wanita. Ya, setelah ayahnya meninggal, Juna tak lagi mengenal apa itu cinta. Hidupnya hanya bertujuan satu, berusaha membahagiakan ibunya dengan berbagai cara. Sampai akhirnya Tuhan mengirimkan Rara dan warna hidup Juna berubah.

Suatu ketika saat warung sepi. Juna duduk berdua dengan ibunya menunggu pembeli. Ibu Juna menanyakan tentang kedekatannya dengan Rara.

“Jun, kamu lagi dekat ya sama Rara?” kata ibu ingin tahu.

“Ibu, kenapa tanya soal itu?” jawab Juna balik bertanya.

“Kamu belum tahu ya Jun, non Rara itu anaknya siapa?”

“Belum Bu,” jawab Juna sedikit penasaran.

“Non Rara itu anak perempuan semata wayang Pak Bakrie, rektor kampus ini.
Juna pun terkejut mendengar jawaban ibu.

“Nekat sekali kamu Jun kalau sampai suka sama non Rara. Mau kamu kita diusir dari kampus ini. Hidup kita sudah susah, Jun. Janganlah kamu tambah bermain api,” tambah ibu.
Juna pun terdiam tak bersuara ditelan gemuruh gunda. Bingkai mimpi bersama Rara pun terpecah belah. Lagu sendu seolah terdengar mengalun di hati Juna yang sedang patah.

Sudah tiga jam lepas pukul 22.00 mata Juna belum juga terpejam. Dia masih berpikir tentang berita tak menyenangkan tadi siang. Di serambi malam ditemani bintang yang terteguk muram, Juna bimbang tentang apa yang harus dia lakukan. Tetap nekat dengan konsekuensi yang pahit atau melepasnya tuk hidup bebas seperti biasa.

Pagi pun datang menyisakan malam yang kian kelam. Langkah Juna tampak berat menuju kampus. Sketsa mentari yang biasanya cerah kini berubah keruh sekeruh hati Juna akan Rara. “Mengapa harus kamu yang jadi anak rektor sialan itu? Mengapa juga status sosial yang harus menghalangi kisahku ini?” beribu kata tanya mengapa tergurat hebat dalam pikiran Juna.

Dia tiba di kampus dengan beban psikis di kedua pundaknya. Juna duduk bersandar di bangku kayu jati yang seratnya mulai rapuh sambil melamun tentang hal itu. Tiba-tiba Rara datang menghampiri.

“Hai, Jun. Kok murung gitu? Ada apa? Mau cerita?” kata Rara dengan rona merah di pipinya.

“Iya. Hai juga, Ra. Aku baik-baik saja kok. Gara-gara kurang tidur mungkin. Tadi malam aku kena insomnia,” jawab Juna berbohong.

Lho? Kok bisa? Kamu lagi banyak pikiran ya? Tentang apa, Jun? Ayo cerita!” Rara ingin tahu.

“Mana mungkin aku jawab tentang sebenarnya. Aku tak mau dia terluka. Cukup aku saja,” dalam hati Juna bergumam.

“Ya sudahlah kalau begitu. Aku nggak maksa kok. Aku menghargai privasimu. Aku cuma mau bilang kalau aku peduli sama kamu, Jun. Jadi tolong jujur ya sama aku,” sambung Rara.

“Sinyal itu telah mengisyaratkan bahwa benar Rara memang cinta aku sama seperti aku mencintainya,” sekali lagi Juna bergumam.
Tanpa pikir panjang Juna lantas mengutarakan perasaannya pada Rara. Gayung bersambut, Rara juga mengutarakan apa yang dia rasa akan Juna. Mereka resmi sebagai sepasang kekasih berlatar taman hijau kampus yang menjadi saksi.

Ungkapan rasa itu ternyata masih menyisakan aral di hati Juna. Juna bingung mau dibawa ke mana hubungan ini. Tapi dia tak ambil pusing. “Jalani saja selagi cakrawala masih kian terjaga,” kata Juna memecah dingin hatinya.
***

HANYA berselang tujuh hari selepas kisah indah itu, Pak Bakrie mengetahui tentang hubungan anaknya, Rara dengan Arjuna. Pak Bakrie lantas memanggil Juna menghadap ke kantornya.

“Apa benar kamu yang bernama Juna?” tanya Pak Bakrie.

“Iya Pak. Benar,” jawab Juna.

“Kamu tahu siapa Rara itu? Dia anak perempuan semata wayangku. Aku tak mau terjadi apa-apa padanya. Lantas kau begitu saja memacarinya. Nekat sekali kau anak muda. Apa mau kau beserta ibumu aku keluarkan dari kampus ini? Ayo jawab!” kata Pak Bakrie dengan nada tinggi.

“Tidak Pak,” pungkas Juna lemah.

“Jauhi Rara! Dengan begitu aku takkan mempersoalkan masalah ini lagi. Kau mengerti?” gertak Pak Bakrie memberikan pilihan.

“Saya mengerti Pak,” Juna mengiyakan.

Selepas kejadian di ruang rektor itu, Juna mulai menghindar dari Rara. Rara bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Juna.

“Jun, kamu kenapa lagi? Kok tiba-tiba berubah?” tanya Rara khawatir.

“Nggak kok, Ra. Nggak terjadi apa-apa,” Juna menutupi hal itu.

“Mana mungkin tak terjadi apa-apa. Kamu tak seperti biasanya. Apa karna ayahku seorang rektor lantas kamu merasa tak pantas bersanding denganku. Ayolah. Ini tak adil,” kata Rara mencoba mengurai curahan hatinya.

Dengan terbata-bata akhirnya Juna menceritakan semua problematika itu. Rara pun terkejut. Raut wajahnya seketika menjadi pucat kuyu. Mereka berdua terdiam sejenak.

”Bagaimana kalau kita pacaran diam-diam di belakang Ayah?” kata Rara dengan lirih.

“Tidak,” tegas Juna.

“Hubungan ini bukan hanya kita yang menjalani, tapi keluargaku, keluargamu juga. Memang benar cinta itu segalanya. Tapi ingat, kejujuran adalah warna indahnya,” terang Juna.

“Kamu harus mau, Jun. Bukankah orang akan nekat melakukan apa saja ketika mendapat sebuah tekanan?” keluh Rara.

“Ya, kamu benar. Episode kita mungkin memang butuh sebuah perjuangan. Aku akan mencoba menjadi seperti apa yang ayahmu pinta,” Juna berikrar.
***

JEDA empat hari Pak Bakrie tak sengaja melihat anaknya sedang duduk berdua bersama Juna di emperan sebuah toko sambil bercakap-cakap mesra.”Nekat benar nih anak. Punya nyali juga ternyata. Belum tahu ya siapa aku?” gerutunya.

Esoknya, tanpa pemanggilan maupun penjelasan Pak Bakrie langsung mengutus koleganya untuk mengusir Juna beserta ibunya dari kampus. Mereka tak bisa melawan. Mimpi buruk itu akhirnya datang. Juna hanya sempat menulis kata-kata terakhir untuk Rara. 

Dalam memo itu tertera : 
“Aku harus pergi. Bukan tuk tinggalkanmu. Hanya menghindar sampai kutemukan jati diri. Biarlah kisah kita berakhir di ujung jemari. Tapi, di relung jiwa ini tetap kau yang menghiasi sampai nanti sampai mati.”

Setelah membaca pesan singkat itu Rara langsung berlinang air mata. Mengurung diri dalam kamar dan tak mau seorang pun menemuinya. “Tuhan, aku tahu kau yang memilikinya. Setiap helah dan hembusan napasnya. Aku sadar. Aku telah mencintanya. Tapi aku tak mengerti, Tuhan. Mengapa kami bertemu lantas akhirnya dipisahkan. Mengapa kami berjumpa tapi akhirnya dijauhkan. Apa ini skenario terbesar-Mu tentang hitam terangnya hidupku. Aku percaya, Kau pasti telah menyiapkan akhir yang indah untuk kami nanti,” tutup doa Rara dalam rapuh hatinya.

Beban berat di pikiran Rara membuatnya tak kuasa dan jatuh sakit. Rara mengalami depresi hebat. Hanya bengong dan sesekali marah-marah sendiri. Lambat laun Rara hampir pantas  disebut gila. Dalam angannya, wanita malang ini merasa telah mendepak ayahnya keluar dari rumah. Sedangkan untuk memuaskan keinginannya hidup bersama Juna, setiap kali dokter mengunjunginya, dia berkata,”Dokter, saya melahirkan seorang bayi tadi malam. Coba lihat, mirip suami saya bukan?” kata Rara dalam fatamorgana. Kehidupan ini dahulu mencampakkan semua impiannya pada kenyataan yang amat kejam. Tapi dalam kegilaannya yang penuh fantasi, semua impiannya menjadi kenyataan. Dia hidup penuh kenikmatan dan bahagia. Apakah kejadian ini tragis? “Saya tidak tahu. Tapi jika saya bisa mengusir kegilaannya itu, saya pasti tak akan melakukannya. Dia jauh lebih bahagia dalam keadaannya sekarang. Jauh lebih bahagia dibanding kenyataan hidup yang sebenarnya.”

Kegilaan Rara hanya seumur jagung. Dia kembali harus opname di rumah sakit sebab keadaannya semakin memburuk. Semua diperiksa. Mulai kepala sampai ujung kaki. Hasil diagnosa dokter menyebutkan bahwa Rara mengidap kanker otak ganas. Setiap waktu bisa saja menjadi akhir perjalanan hidupnya. “Kalau saja aku dulu merestui hubungan mereka, pasti Rara, anakku takkan tergolek lemah seperti ini,” ungkapan penyesalan yang tak lagi berarti.

Hanya dua bulan Rara bisa bertahan sampai akhirnya tak lagi bisa diselamatkan. Rara pergi menutup jalinan cerita sedih yang tak tahu bagaimana cara tuk mengobati. Jasadnya pucat. Hanya sedikit senyum di bibirnya yang mengisyaratkan bahagia karena telah lepas dari problematika dunia. Rara dimakamkan di kompleks pemakaman dekat kampus. Batu nisan yang basah juga mulai mengering selepas peziarah pergi meninggalkan tempat itu. Rara sendirian dalam sunyi yang abadi.
***

KABAR duka itu akhirnya sampai di telinga Juna. Dia amat sedih karna tak bisa menyaksikan paras Rara tuk terakhir kali. “Ya, mungkin itu penyesalan terbesar dalam hidupku, Saat tak bisa bersamamu tuk terakhir kalinya. Kini aku harus menunaikan sisa tugasku sebagai manusia yaitu menikah. Aku meminta izin padamu, Ra. Aku tahu ini salah. Tapi aku tak mau mengecewakan ibuku tuk kedua kalinya. Aku percaya kaulah jodohku yang sejati hanya saja bukan di dunia ini. Selamat jalan kasih, tunggu aku temuimu lagi,” penutup suara Juna di tepi makam Rara yang wangi bertabur melati suci.

Rembulan memang akhirnya tak bertuan, tapi cinta Juna-Rara akan tetap mewangi dalam ingatan.
(IPM)

Sidoarjo, Februari 2011
 #Ilustrasi diunduh dari sini

Followers