April 14, 2020

Hujan yang Kuberi




Aku ingin memberimu hujan.
Ronamu kian lelah paskah menjalani hari. Hingga, kukumpulkan beberapa awan untuk meruap mendung di tempatmu, teduhnya tenang, selaksa relaksasi khas alam. Kamu pun terlelap pulas.

Aku semakin ingin memberimu hujan.
Beberapa pujangga bilang, hujan itu romantis. Sebab, ia terus saja kembali, meski nyatanya pernah jatuh berkali-kali. Namun, kamu tak mengamini. Malah, lebih jauh, kamu berkelakar, “Hujan sering mengganggu pagiku.”

Aku sangat ingin memberimu hujan.
Damai saja hawanya. Berdiam di rumah sembari menikmati kopi panas dan selimut. Rambutmu akan diikat ekor kuda, dengan kacamata tebal, demi menuntaskan laman buku sastra kesayangan. Aroma petrichor tanpa alpha, lekat pula menemani menentramkan. Ironis, kamu tak merasa.

Kuulangi, aku teramat ingin memberimu hujan.
Air yang basah di pergelangan, serintik kemudian, tetapi tak kau usap ia perlahan. Kelak, ia akan menelusup masuk ke pelupuk matamu. Lantas kau pedih. Berkedip. Lalu sampailah ia pada retinamu yang kaca.

Aku telah memberimu hujan.
"Kapan?" kamu pelan bertanya. Kemarin. Tetapi, tak ada lagi esok, lusa, atau hari yang lain. Kemarau adalah teman barumu.

“Mengapa? Tidakkah katamu kau setia?"

Maaf. Aku lelah...
(IPM)

Idham PM | Sketsastra 2020
#Ilustrasi diunduh dari sini.

1 comments:

Anonymous said...

Another sad story

Followers