September 22, 2018

Lupa Bercerita




Kamu lupa bagaimana caranya bercerita…

Teriknya siang di kotamu sudah barang tentu menyengat. Panasnya sakit, taklid, hingga membuat setiap orang mencari saung berteduh. Sudah hampir tiga tahun kamu menjalani hidup di distrik itu, tempat di mana rupiah digali, diolah, dan ditempatkan dalam nominal-nominal buku.

Rutinitas tempo dulu pun telah lama kau tinggalkan. Apa itu bahan bacaan? Apa itu larik sajak? Apa itu alinea pembuka? Serta, lebih parah, siapa itu Tukang Cerita?

Benar kata orang, kehidupan selalu memiliki fase yang tak pernah diam. Perubahan adalah abadi, tambahnya. Kamu tak mengiyakan, tidak pula menangguhkan kalimat itu. Terlihat pasrah dengan segala yang datang, dan… pada akhirnya menerima.

Dengan segala jenuh, kamu mulai mencari tahu. Iya, mencoba menemukan kembali apa yang hilang. Barangkali, bukan ‘hilang’, tetapi lebih tepat bila menyebutnya sebagai ‘bersembunyi’. Satu caramu yakni, mulai rajin berkemas, berpindah ke lain tempat.

Bila almanak menunjukkan warna merahnya, kamu pasti punya rencana bertualang entah ke mana. Tak perlu jauh, tapi berpindah. Tujuan pertamamu ialah Kota D. Tempat lamamu sebenarnya, yang bertahun kamu tempati, namun tak pernah muak untuk dikunjungi.

Kota D selalu punya sambutan yang mengejutkan. Apa pun. Namun, kali ini lain, kamu hanya ingin memberi ucapan selamat kepada seseorang: Dia. Iya, Dia, yang mengusahakan segalanya agar selesai, setelah turun-naik serta lika-liku menghambat jalannya.

Entah mengapa, selalu kamu kagum dengan seseorang yang berhasil berdiri setelah disungkurkan, kembali menatap sesudah bermalam penuh tangisan, juga berani ke depan, tanpa perlu menengok terus ke belakang.

Dini hari kamu tiba. Tanpa tidur cukup, sebab matamu tak pernah mau memejam di perjalanan, kamu pun terjaga, menyiapkan apa yang harus disiapkan. Kotak kopi Trung Nguyen, buku Thrive karya Ariana Huffington, seikat bunga, dan tentu, mata merah. Lekas saja kamu berikan itu semua padanya. Berbalas potret digital di gawaimu, kamu pulang cukup puas.

Dengan janji seadanya, kalian bertemu selang 30 jam paskah hari itu. Hitam-abu nyatanya cukup serasi di malam basah kota D. Ditemani wedang jahe, roti bakar, juga jamuan berbumbu kapulaga, ada cerita yang kamu simpan.

Cerita tentang laman keseharianmu, bagaimana tetiba kamu diliputi rasa khawatir berlebihan, kisah politik kantor yang rumit, dan sebaliknya, Dia pun melagukan beberapa larik pengalamannya. Detail, rapi, terkadang pula ekspresif. Betul memang, perempuan paling pandai mengingat-ingat.

Larutnya malam, membuatmu spontan memutar kilas balik pertemuanmu dengan Dia. Sudah bertahun nyatanya. Kali ini dia ‘selesai’. Tak banyak basa-basi, langkahmu cepat saja berubah. Entah mengapa, kamu yang well planned, tetiba tergesah-gesah. Harus sekarang, pungkasmu. 

Kamu pun mulai berbicara. Pelan, dan tentu saja rahasia.

Kamu tak mau membagi denganku akan apa yang terjadi malam itu. Hanya saja, kini banyak senyum yang kamu tampakkan. Entah bersebab Dia, aku tak mengerti. Yang jelas, itu baik untukmu.

Kamu lupa bagaimana caranya bercerita… sampai ada Dia, dan laman kisahmu barangkali akan bertambah.
(IPM)

Bandung, September 2018

#Ilustrasi diunduh dari sini

Followers