Berat di Nama Almamater

June 11, 2014


Ceritanya, penulis blog ini (saya) tengah kerja praktik atau magang selama lebih kurang sebulan ke depan. Sebagai informasi, saya berasal dari jurusan kimia dan tinggal di Kota Surabaya sehingga (singkat kata) dipilihlah PT Pertamina Cab. Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya untuk menjadi tempat magang. Alasannya dekat rumah, serta ingin menghabiskan bulan puasa bersama keluarga.



Awalnya, saya bingung ketika sampai di lokasi pada hari pertama. Maklum, Pertamina di sini mengurus bagian bongkar-muat Bahan Bakar Minyak (BBM) dan pelumas dari kapal minyak segede gaban atau biasa disebut Ocean Tanker untuk ditampung di tangki raksasa dan didistribusikan ke seluruh bagian Provinsi Jawa Timur, sementara latar belakang penulis ialah seorang praktikan laboratorium.



“Apa yang bisa saya bantu di sini, Pak?” tanya saya ragu-ragu kepada mentor kerja praktik. “Kamu bisa bantu-bantu di Lab Quality Control­­-nya saja ya,” jawab beliau. Akhirnya, setelah mengurus bagian administrasi, diantarlah saya ke bagian Lab QC BBM dan pelumas.



Setiap hari, saya diwajibkan datang pukul 07.30 dan baru pulang setelah pukul 16.00. Jujur, saya salah kostum pada hari pertama magang. Kemeja bergaris cokelat dengan dominan putih, celana kain hitam, ikat pinggang berbahan kulit, serta sepatu pantofel dengan PeDe saya kenakan. Dan, setelah sampai di lapangan, apa yang terjadi? Ya, setelan tadi harus saya tanggalkan, diganti dengan Alat Perlindungan Diri (APD) semisal: helm, baju lapangan, rompi keamanan, dan sepatu berat dengan bahan menyerupai logam. “Well, tahu gini tadi datang pakai baju santai saja,” saya menggerutu.



Lebih parahnya, lab QC berada di area belakang sehingga saya harus berjalan melewati Zero Zone (zona dengan keamanan lengkap) untuk bisa sampai. Kalau sudah masuk lab, rasanya 180 derajat berbeda keadaannya. Ruangan luas ber-AC, bersih, serba putih, dan banyak peralatan yang otomatis. Lumayan canggih lab QC Pertamina yang satu ini. Satu lagi, APD tadi harus saya tanggalkan dan diganti baju saya tadi plus sandal lab dan jaslab. Ribet soal baju.



Kalau saya pikir-pikir, ruangan lab ini tidak asing. Bahan-bahan kimia seperti aseton, xilana, serta n-heksana, dapat dijumpai dengan mudah. Justru, aquadest (yang biasanya digunakan paling sering di lab kalau praktikum kuliah) di sini tidak ada. “Minyak kan tak boleh bercampur dengan air,” kata mentor magang. Sebagai zat pencuci, biasanya dipakai pertasol, bahan kimia dengan rantai karbon pendek (secara rinci, saya belum baca MSDS-nya).



Sebagai awalan, hari ini saya cukup dikenalkan dan diberikan tugas untuk adaptasi dengan lingkungan lab. Mulai dari kepala lab, analis, laboran, hingga cleaning service dan security semua saya salami. “Pak, saya Idham, mahasiswa baru, akan magang selama sebulan di sini,” kalimat saya membuka percakapan. Dan, hampir selalu mereka akan menjawab, “Mahasiswa dari mana, Mas?” Singkat saya jawab, “ITB, Pak.” Entah mengapa, raut mereka langsung berubah dan berkata, “Wah, hebat ya, nanti tanya saja kalau ada yang tidak mengerti.”



Ya, saya cukup senang dengan keramahan para petugas di sini. Namun, saya cukup khawatir dengan kapabilitas saya secara pribadi. Mereka memandang almamater saya (terlalu) tinggi. Sementara saya, hanya mahasiswa rerata, tanpa embel-embel bintang. Pelajaran hari pertama: saya harus menjaga wajah ITB selama sini. Banyak bertanya, banyak membaca, biar tidak malu-maluin.



Semoga hari berikutnya semakin berwarna, semakin berjaya. Bismillah, untuk 30 hari ke depan magang di Pertamina Surabaya.

(IPM)



Surabaya, 11 Juni 2014


Followers