Sepotong Kisah di dalam Gerbong Kereta

January 16, 2013



Gerbong kereta. Panjang. Penuh shaf-shaf yang mengapit di setiap sela. Berdua-dua. Untuk nantinya laksana antrean yang mengular tak berujung. Di setiap lekuk, terdapat dua wajah yang berbeda. Namun, pernahkah kalian memerhati? Adakah pada dua muka tadi memberikan persamaan arti? Kini, perbolehkan aku bercerita, tentang makna yang tersimpan di dalam asa. Simaklah!

Kini, aku mengapit paha sambil duduk pada sebuah bangku dalam gerbong kereta. Teman sebelahku lelaki. Dari ceritanya, aku dapati dia telah bekerja. Sepuluh tahun. Semenjak lulus SMA dan merelakan diri menjadi teknisi perusahaan BUMN terkemuka. Orangnya lugu. Tak banyak tingkah, serta kurasa tidak berbahaya. Dari kupingku, sepertinya aku mendengar bahwa dia telah berkeluarga. Entahlah, aku tak ingin menangkap yang lain. Sebelum ia berkesah, sebaiknya aku kembali menulis saja.
 

Di bangku depanku. Duduk wanita ayu berkerudung abu-abu, satir dengan corak warna keraguan. Dia sendirian. Kuterka, berumur dua puluhan. Sedari tadi, dia senantiasa menatap ke luar jendela. Padahal, ini kereta malam, dan sudah pasti, tiada lansekap yang terpampang. Namun, dia masih masyuk menanar ke luar. Entah apa yang diperhati, aku tak mengerti. Sebelum ia berkesah, sebaiknya aku kembali menulis saja.

Di sebelah wanita ayu tadi, tentu ada lelaki beruntung yang duduk bersebelahan dengannya. Kurasa, lima tahunan lebih tua darinya. Bertopi krem. Berbaju biru, yang berawal dari jaket kulit cokelat ketika dilepaskan bersebab gerah. Dari tadi, sering dia mencuri pandang ke perempuan sebelahnya. Sambil membenarkan topi, dia mengecap bayangnya sembunyi-sembunyi. Sembari berpura bermain telepon genggam, dia mengambil siluetnya diam-diam. Namun, tiada kata yang dia ucap. Sepi. Kelu. Tak mampu lidahnya menyentuh lidah wanita itu. Sebelum ia berkesah, sebaiknya aku kembali menulis saja.

Duduk di belakang bangkuku, ada wanita lain yang gemar memerhati. Putih. Berbalut sejuntai kain di rambutnya. Entahlah, sedari tadi dia asyik menyimak pembicaraan kami, aku dan temanku. Kusangka, dia ingin tenggelam dalam percakapan kami. Kutoreh, dia mau seperti bergairah menyangkal setiap pernyataan. Namun, dia tak kuasa. Sebab, dia tak kukenal. Barangkali, dia butuh teman, untuk membagi lukanya, yang merah seperti senja. Seyogyanya, dia juga perlu tempat penampung perasaan. Oh, adakah kau bersedih, Nona? Mungkinkah kau wanita tersunyi di gerbong kereta? Sebelum ia berkesah, sebaiknya aku kembali menulis saja.

Di lorong gerbong kereta, ada pelayan yang suka menawarkan barang. "Makan malamnya: nasi goreng, nasi rames" kemudian mereka menghilang. "Hangat-hangat: mie rebus," mereka senyap lagi. "Minumannya silakan: kopi, teh manis, susu, wedang jahe," suaranya berlalu seperti ambulans: samar, terang, samar lagi. Oh, mereka dibayar untuk itu semua. Mengantarkan lega pada perut-perut penumpang kereta. Dengan mengganjar rupiah, mereka pergi, membawa piring-cangkir sisa lelehan tadi. Aih, aku sungguh menangkap jiwa-jiwa letih di sana. Mereka, dengan sengaja melukis legam pada wajahnya. Mereka, juga dengan pasti memasang mimik muka agar didermai. Satu dari mereka datang kepadaku. Barangkali ia terganggu, mendengar mataku yang sedari tadi berbisik pelan mencari pembenaran. Sebelum ia berkesah, sebaiknya aku kembali menulis saja.

Diagonal dari tempatku duduk. Ada lelaki paruh baya yang duduk berdua dengan wanita muda, dua-puluhan usianya. Dengan mudah, kuanggap mereka sebagai bapak-anak. Namun, sungguh tak pernah ada cekikikan antara anggota keluarga yang janggal. Tak mungkin pula ada lenguh yang mengambang. Apalagi ketika tangan lelaki itu dengan piawai menggamit tubuh wanitanya melingkar, laksana ular yang tak ingin melepas mangsanya, dan sang wanita mau, atau juga terpaksa berlaku, karna perjanjian sebelumnya telah disepakati. Aih, gerbong kereta kusanggah telah mirip hotel melati. Perjamuan bisa dilakukan di sini. Tak pentinglah ada beratus mata yang mengawasi. "Ia tak kenal aku, dan mereka tak penting bagiku," katanya pelan, tapi terdengar. Namun, dia tak memasang air muka bahagia. Ada beban yang sengaja ditutupi. Mungkin juga, ada keluarga yang menunggu mereka kembali. Sang lelaki malah lebih tak tenang. Seringkali, kakinya dilipat, atau semenit kemudian tangannya bergemah mencuat. Kau ketakutan, Kawan! Tapi tak penting. Sebelum ia berkesah, sebaiknya aku kembali menulis saja.

Sekarang, ada yang duduk di atas bangkuku. Seorang lelaki. Berusia dua puluhan. Dia tak tidur, sibuk melukis wajah sendu para penumpang. Dia juga berteman sunyi, bersahabat dengan elegi. Huh, sedari tadi, dia sibuk sendiri. Memikirkan ini-itu dari alfabet hingga deretan angka mati. Entahlah, tapi dia menyukainya. Sungguh tak penting pula, apakah ia sudih menjelmanya nyata, atau hanya disesapkan menjadi maya. Oh, sebelum ia menulis kembali, ketahuilah, ia telah berkesah segalanya padaku, tanpa terkecuali.
(IPM)

Surabaya-Bandung, Januari 2013
#Ilustrasi diunduh dari sini

Followers